Modifikasi Suzuki Satria F-150 Harlan Fadhilah, Rahasianya Ada di Head
Untuk bisa melesat cepat
secara konstan, tidak harus dengan power mesin besar. Nih, buktinya!
Besutan milik Harlan Fadhilah yang belum lama ini sukes menjuarai kelas
psort 150 cc pada IRS seri 2 di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Sebelumnya, tenaga dapur pacu Suzuki
Satria F-150 Harlan ini ketika didyno di atas mesin Dynojet 250i buatan
Amrik milik Bintang Racing Team (BRT), berhasil raih power 23,5 hp.
Namun, pencapaian segitu justru kerap undang masalah di trek. Ketahanan
dan kestabilan mesin suka tergangu.
Dari pengalaman itu, bengkel racing yang
bermarkas di Cibinong, Jawa Barat ini coba ramu ulang dapur pacunya.
Utak sana, atik sini. Power diturunkan sedikit jadi 22,75 hp, dengan
torsi 12,95 Nm/12.000 rpm. “Power gede tidak menjamin bisa menang.
Durability dan kestabilan performanya pegang peran penting,” tukas Tomy
Huang, bos BRT.
Buktinya, ubahan mesin masih seperti
sebelumnya. Rasio kompresi diset 11,8: 1 pakai piston jenong Wiseco
untuk Kawasaki Ninja 250 yang diameternya sama kayak Satria F-150 (62
mm). Termasuk, porting saluran masuk dan buang yang diukur flowbanch.
Profil kem pun masih menerapkan durasi
281° di bagian ex (membuka di 61 sebelum TMB, dan menutup di 40 setelah
TMA) dan 267° pada in (membuka di 31 sebelum TMA, dan menutup di 56
setelah TMB). Lift klep ex 8,18 mm dan in 8,38 mm. “Secara keseluruhan
tidak ada ubahan signifikan di mesin. Hanya saja, ada bagian di head
yang didesain spesial untuk menjaga durability. Sehingga, sanggup
digeber di putaran tinggi dalam waktu lama,” bisik Tomy Huang. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIBan depan : FDR 90/80-17
Ban belakang : FDR 90/80-17
Knalpot : R9 Racing
Sok belakang: Kayaba
Kaliper rem: Nissin
Yamaha Jupiter-Z 2007 Ponorogo, Ramuan Beringas di Bawah dan Tengah
Hampir di semua gelaran
balap, kini diwajibkan pakai bahan bakar Pertamax Plus. Itu sebabnya
David Surya Pratama, juragan tim Aurora AMRF NHK CLD Primaax Creampie
GDT (AANCPCG), enggan gonta-ganti settingan yang bikin dana membengkak.
Mereka kini fokus seting mesin berdasarkan Pertamax Plus.
“Untungnya bahan bakar ini juga bisa
diseting sesuai karakter pembalap. Kayak yang diterapkan mekanik kami,
Erwin Yunanto pada pacuan Faisol Sidoel,” bilang David.
Faisol lebih doyan ubahan mesin yang
maksimal di putaran bawah ke tengah. Sedang untuk atasnya hanya
menysuaikan kebutuhan sirkuit yang non permanen. Untuk bisa dapat itu,
modalnya Erwin terapkan rasio kompresi mesin 12,4 : 1. Rasio segitu
tergolong rendah buat pacuan balap, tapi terbilang tinggi saat pakai
Pertamax Plus.
Caranya, dengan menjejali blok silinder
pakai piston Kawahara berprofil jenong yang dome-nya diset 1,5 mm.
“Diameter piston 55,25 mm untuk kejar 130 cc. Posisi pemasangannya
dibuat mendem sekitar 0,4 mm dari bibir liner,” bilang mekanik berambut
cepak ini.
Mendem segitu setelah paking blok silinder
pakai setebal 0,5 mm dari bahan aluminium. “Enaknya pakai paking
aluminium, ketebalan paking nggak mudah menyusut ketika mesin panas,”
ungkap tuner asal kota sate Ponorogo. Efeknya, kompresi selalu terjaga
optimal. Sehingga performa mesin selalu stabil.
Selain kompresi, tentu korekan mesin juga
pegang peran signifikan. Guna mengail asupan gas deras ke ruang bakar,
serta memlancarkan pembuangan gas hasil pembakaran, klep diganti gede.
“Pakai punya Honda Sonic. Diameter in 26 mm, sedang outnya 23 mm. Profil
kem juga dirancang ulang dengan tinggi angkatan klep (lift) mencapai
9,3 mm,” bilang mekanik berbadan tegap ini.
Terakhir, mengimbangi karakter balap
Faisol yang liar, magnet bawaan motor dibubut biar lebih enteng.
“Bubutnya sampai dapat 700 gram. Itu sudah cukup kok untuk bikin putaran
as kruk akan makin ringan,” tutup Erwin.
Ramuan itu mengena. Di kelas Bebek 4-Tak
115 cc Tune Up (MP3) kejurda Jatim, Jupiter tim AANCPCG ini mampu
dominasi hampir di tiap seri. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIBan dpn.blkg : Primaax, 90/80-17
Sok belakang: YSS double click
CDI : Rextor Pro Drag
Knalpot : Creampie
Karburator: Mikuni TM
Modifikasi Honda Blade 110 2008 Aceh, Dari Bawah Sudah Ngisi Gimana Tengah Atasnya
Karakter balap Abdul
Malik, “saat keluar tikungan, power mesin wajib ngisi,” curhat Purwanto,
chief mekanik tim Capella Honda FIF NHK Racing Team. Menyiasati itu,
mekanik asal Bagan Batu, Sumatera Utara ini meracik kem dengan durasi
tinggi di Honda Blade pacuan Malik.
Saat turun di One Make Race HRC Blade
Racing Championship di alun-Alun Kota Stabat (25/6) lalu, kem in dibikin
277° dan klep ex cukup 270. Rinciannya, valve isap membuka di 33°
sebelum TMA dan menutup 64° sesudah TMB. Sedangkan klep buang open di
56° sebelum TMB dan menutup 34° setelah TMA. Angka segitu untuk membuka
klep berdiameter 27,5 mm (in) dan 23 mm (ex). Lobe Separation Angle
(LSA) diset 102°.
Lalu rasio kompresi dibuat enggak terlalu
tinggi 12,7:1. Didapat dari pemakain piston berdiater 51,25 mm yang
dikombinasi kruk as Honda Supra X 125 dengan stroke 57,9 mm (kapasitas
silinder jadi 119,3 cc, dibulatkan 120 cc).
Bibir piston dibikin mendem 0,4 mm. Paking
blok hanya pakai setebal 0,2 mm. Sehingga, total mendem jadi 0,6 mm.
Sebenarnya pada pacuan balap, clearance segitu kadang riskan terhadap
endurance mesin. Biasanya, mekanik bermain di angka 0,8mm-0,9 mm.
Tapi, Purwantro berani mengambil keputusan
itu. Pasalnya, karakter sirkuit non permanen Alun-Alun Kota Stabat
banyak dihiasi trek pendek. Sehingga, kitiran mesin enggak perlu terlalu
teriak. Sehingga dirasa aman dibuat mendem 0,6 mm. Biar mesin adem,
karburator TM 24 dijejali spuyer agak ‘basah’. “Pilot-jet 30 dan
main-jet 165,” jelas ayah satu anak ini.
Agar makin sempurna melibas sirkuit pasar
senggol, sok belakang dipilih merek Daytona. Tentu setingan dibikin
keras supaya cepat balik kala melahap tikungan. Hasilnya, mesin Blade
enggak jebol, malah pembalap bernomer start 45 ini berhasil merajai
kelas HRC 1 (Bebek 4- tak Tune up Seeded) dengan naik podium pertama.
Padahal kalau dihitung volume silinder
yang dihasilkan dari kombinasi piston berdiameter 51,25 mm plus stroke
57,9 mm, Blade ini hanya mencapai 119,3 cc. Congrat’z, bro! (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASICDI: BDT Superpro
Ban depan: FDR MP57 90/80-17
Ban belakang: FDR MP76 90/80-17
Koil: Standar
Cakram depan: Daytona
Modifikasi Yamaha Jupiter-Z 2009 Yogyakarta, Pacuan Hendriansyah Yang Bikin Pembalap Muda Ketar-Ketir
Kiprah Hendriansyah
sebagai wildcard di ajang Indoprix Championship (IPC) 2014, bikin
pembalap muda ketar-ketir. Benar saja, meski sudah tidak muda lagi,
Hendri berhasil sabet double winner di seri kedua IPC yang digelar di
sirkuit Skyland, Sekayu, Sumatera Selatan belum lama ini. Wah, tua-tua
keladi nih, hehehe..
Racikan Yamaha Jupiter-Z tunggangan Hendri
juga menarik diteliti. Pasalnya, motor yang sudah tidak diproduksi lagi
ini bisa mengubur dominasi Jupiter Z1 yang belakangan berkuasa di ajang
Indoprix.
“Daya tahan mesin dan seting suspensi yang
pas jadi kuncinya. Paling utama peran suspensi, harus benar-benar
diperhatikan agar cengkraman ban tetap terjaga hingga akhir putaran,”
ucap Torana Tuladong, juru korek tim Evalube Go & Fun Nissin FDR KYT
HRP Gandasari.
Pada seri dua lalu, peran suspensi sangat
diperhatikan untuk menjaga kondisi ban yang sangat mudah terkikis. Di
Jupiter Z, sok belakang diseting lebih empuk dibandingkan dengan
setingan sok yang sama saat main di sirkuit Karting, Sentul (Jawa Barat)
seri 1 silam. Tujuannya, agar kerja ban tidak terlalu keras meredam
guncangan di trek bumpy.
Untuk mengangkat performa mesin, Torana
andalkan piston forging buatan Kawahara berdiameter 55,25 mm. Dengan
stroke standar Jupiter-Z yang 54 mm, kapasitas silinder meningkat jadi
129,1 cc.
Klep pakai milik Honda Sonic dengan
kombinasi bagian isap 28 mm, dan klep buang 24 mm. Sitting klep pakai
bahan beryllium copper atau BeCu, buat jaga kompresi yang dipatok 12,2 :
1 gak mudah bocor dan selalu konstan.
“Durasi noken as diset 282 di bagian isap,
dan buangnya 280. Rinciannya, klep isap membuka 40 sebelum TMA dan
menutup 62 setelah TMB. Klep buang membuka 62 sebelum TMB, dan menutup
38 setelah TMA. Lift keduanya 9,2 mm dengan overlap 3,6 mm,” tutup
mekanik yang bermarkas di Yogyakarta ini. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIBan: FDR Sport FR 75
CDI: BRT I-Max Super Pro
Knalpot: R9
Koil: Yamaha YZ 125
Sok belakang : YSS
Modifikasi Honda Blade 2013 Medan, Terapkan Kompresi Ideal Untuk Bisa Kedepan
Dalam dua seri OMR Honda
region Sumatera Utara di sirkuit Pacing, Medan dan Stabat, Honda Blade
pacuan Adrian Aritonang dari Tim Honda Indako NHK FDR SSS selalu tampil
juara di kelas MP4 (bebek 4-tak tune up 110 cc pemula). Ini tidak lepas
dari ramuan sang mekanik, Sardin Gorad Pasaribu yang coba terapkan
kompresi ideal buat minum Pertamax Plus.
“Regulasi OMR Honda harus menggunakan
bahan bakar oktan 95 atau Pertamax Plus. Makanya sejak akhir tahun lalu
sudah mulai riset dan hasilnya cukup memuaskan,” kata mekanik yang hobi
pakai topi rimba ini.
Agar motor bisa melesat cepat di trek
lurus maupun saat keluar masuk tikungan, ia harus jeli tentukan
perbandingan kompresi yang tepat. “Dari beberapa kali coba-coba, rasio
12,3 : 1 lah pas. Cuma turun sedikit dibandingkan waktu pakai bensol,”
lanjutnya
Dengan perbandingan tersebut, sukses
mengail tenaga gede sejak rpm bawah, tengah hingga atas. Tentunya
didukung pula dengan ubahan pada komponen mesin lainnya. Oh iya,
perbandingan segitu didapat Sardin setelah jejalkan piston jenong merek
FIM berdiameter 51,25 mm. Diteruskan memapas cylinder head sebanyak 0,8
mm dan mendesain kubah berbentuk bath-up.
Kemudian guna memancing campuran gas yang
banyak ke ruang bakar serta memperlancar pembuangan gas hasil
pembakaran, profil kem dirancang ulang. Bagian in diset membuka di 34
sebelum TMA dan nutup di 58 setelah TMB (durasi 272°). Sedangkan ex-nya
diatur membuka di 56 sebelum TMB dan nutup di 35 setelah TMA (271).
Sebagai pintu keluar masuk campuran gas
dan sisa gas buang, ditugaskan klep in 26 mm dan out 23 mm. Pengabutan
bahan bakarnya dikomandoi Mikuni TM 24 mm, dengan kombinasi main jet 170
dan pilot jet 27,5. Plus nozel tipe P5. Knalpot pakai produk keluaran
AHM.
Satu lagi yang jadi andalan besutan Adrian
ini, yakni pada bagian kampas koplingnya. “Saya tetap andalkan rumah
kopling tipe KWB yang masih model diafragma bukan per. Ini membuat
putaran atas motor lebih ngisi,” tutupnya .
Salut! (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASISok belakang: Ohlins
Pelek depan: 1,40 x 17
Pelek belakang: 1,60 x 17
Ban: FDR MP76 90/80-17
Knalpot: AHM
New Honda Blade 2013 Bandung, Pecahkan Rekor Sentul Kecil Yang Pernah Dicetak Sigit PD Tahun Lalu
Rekor sebelumnya yang
dicetak Sigit PD tahun lalu di sirkuit Karting, Sentul, Jawa Barat
dengan catatan waktu 57,845 detik, di seri 1 Indoprix (27/4) kemarin
pecah oleh I Gede Arya jadi 56,333 detik di atas New Honda Blade 110 cc
andalan Honda Daya KYT Nissin Daytona IRC.
Tak heran bila pembalap yang akrab disapa
Ucil ini mampu menunjukkan perlawanan sengit terhadap barisan Garputala
yang mendominasi lini depan pakai Z1 sejak race 1. Malah di race ke-2
Ucil sempat memimpin jalannya lomba hingga 1 lap lagi menjelang finish.
Meski di pertengahan lomba Fitriansyah
Kete sempat mengambil posisi terdepan, namun Ucil hanya butuh 1 lap
untuk ambil alih pimpinan. Sayang, masuk lap terakhir Blade Ucil
melintir di tikungan parabolik jelang R2. “Lari motor kayak mau out,”
tukasnya.
Banyak kalangan mengakui performa Blade
Ucil ini memang dahsyat. Terbukti sanggup melawan Z1 yang ada campur
tangan teknisi dari Yamaha Jepang. Sementara Blade Honda Daya ini murni
korekan mekanik lokal, yakni digarap Suhartanto ‘Kupret’.
Power maksimum yang mampu dimuntahkan
dapur pacunya kata Kupret tembus 19,5 hp di putaran 13 ribu rpm di atas
mesin Dyno Star milik Daytona. “Tapi, torsinya cuma 12,6 Nm/9.500 rpm.
Sengaja nggak gede-gede, biar tak terlalu liar buka-bukaannya,”
imbuhnya.
Untuk mendapatkan performa segitu, item
ubahannya antara lain piston pakai keluaran Daytona diameter 51,25 mm
untuk kejar volume silinder 115 cc. Rasio kompresi mesin diset 12,2 : 1.
Trus, untuk memperderas aliran campuran
gas ke ruang bakar, lubang inlet di bagian luar digedein jadi 25 mm.
Lalu, yang arah ke sitting jadi 24 mm. Tapi, bagian tengahnya dibuat
membesar.
Mengimbanginya, klep in digedein pakai
produk EE diameter 27 mm. Sedang ex-nya pakai diameter 23 mm yang
kemudian diikuti merancang exhaust port yang dibikin membesar di bagian
ujung. Yakni 23,5 mm, agar aliran gas buang makin lancar.
Nah, untuk menyemburkan kabut Pertamax ke
ruang bakar, ditugaskan karbu Mikuni TM24 kombinasi spuyer 30/185 (pilot
jet/main jet). Dilanjutkan membentuk ulang profil kem. “In-nya membuka
di 34º sebelum TMA dan menutup di 58º setelah TMB (durasi 272º).
Lift-nya mencapai 9,3 mm dengan LSA 103º,” beber Kupret.
Sedang kem ex durasinya agak diperkecil
jadi 269º. Membuka di 57º sebelum TMB dan menutup di 32º setelah TMA.
Lift pun dibikin lebih rendah 0,2 mm. Karakter yang dihasilkan, membuat
performa mesin di putaran bawah dan tengah jadi dahsyat. Makanya keluar
masuk tikungan, Blade pacuan Ucil mempu melesat lebih cepat.
Wrrooommmm…!! (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIGigi rasio: Gigi 1 - 4 = 13/31,17/30, 20/28, 23/25
Final gear : 14 – 40 (Sentul kecil)
Magnet : Standar bubut 650 gr
CDI : BRT I-Max 8 step
Honda BeAT 2011 Subang, Teknik Apik Biar Cepat Keluar Dari Tikungan Tajam
Sirkuit Stadion Maulana
Yusuf, Serang, Banten, tergolong banyak tikungan tajam. Tuner wajib
putar otak berkali-kali buat mengatasi tipikal trek seperti ini.
Menurut Mansuri, mekanik Empush Racing,
kecepatan bukaan setelah melibas tikungan jadi kunci buat atasi trek
seperti itu. Sebaiknya motor cepat teriak ke putaran atas, supaya
setelah nikung bisa keluar lebih cepat lagi," terang Suri, panggilan
mekanik asal Meruya, Jakarta Barat ini.
Hal inilah yang diterapkan Suri ke pacuan
Honda BeAT milik tim CLD Apry Megaprima FDR PSM Empush KYT asal Subang,
Jawa Barat. Untuk itu rasio kompresi mesin harus ditinggikan. Agar cepat
keluar dari tikungan. Untuk BeAT ini, Suri mematoknya di angka 12,8 :
1.
Terjun di kelas 130 cc, piston CLD dengan
diameter 55 mm yang dikawinkan dengan stroke standar yang 55 mm. Volume
silinder pun, kini jadi 130,6 cc.
Tak hanya dari bore up saja yang
digadang-gadang bisa bikin mesin cepat teriak. Bibir piston dibikin
mendem tipis dari bibir blok.
Setelah itu, head silinder dijejali dengan
klep Sonic 28/24 mm yang dipasangkan dengan per klep keluaran
CLD. Agar rpm tinggi setelah tikungan tercapai, pengaturan durasi
buka-tutup klep dimainkan juga. Buat klep in dan ex, durasi bermain di
266 derajat. Lalu, bukaan angkatan klep alias lift klep ditetapkan di
angka 9 mm. Ini berlaku untuk kedua klep. Tujuannya, agar asupan dan
buang sisa pembakaran ikut imbangi kebutuhan mesin yang sudah bore up.
Ditambah lagi, asupan pengabutan bahan
bakar dan udara juga sudah aplikasi karburator Keihin PWK 28 mm. Karbu
ini, diyakini mampu menyemprotkan secara deras bahan bakar Pertamax
Plus. Terutama di putaran bawah.
Agar sisa pembakaran terbuang lancar,
knalpot comot milik CLD. Hasilnya, pacuan yang dibeger Dani Alamsyah ini
berhasil mengumpulkan poin tertinggi di event seri perdana Pertamina
Enduro Nissin BRT Matic Race (PENBMR) 2014 di Serang beberapa waktu
lalu. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIBan depan : FDR 90/80-14
Ban belakang : FDR 90/80-14
Knalpot : CLD Racing
Kampas kopling: CLD Racing
Yamaha Mio 2008 Bekasi, Main di Kompresi Rendah, Eh Malah Jadi Juara
Engine FFA di Matic Race
tergolong ekstrim. “Agar bisa menyentuh garis finish wajib tahan selama
balapan,” jelas Anton Solihin alias Anton Bule, manager tim KRS CV Giri
Cilik.
Itulah kunci kemenangan Julio Usmanius di
Pertamina Enduro Nissin BRT Matic Race (PENBMR) 2014 (2/2), kelas Matic
FFA s/d 350 cc. Kala itu digelar di sirkuit dadakan area Parkir Stadion
Maulana Yusuf, Serang.
Podium pertama ini karena endurance yang tinggi. Caranya menerapkan rasio kompresi rendah.
Pakai Pertamax Plus hanya dikasih kompresi
10,5 : 1. Padahal pakai Pertamax Plus, rasio kompresi harusnya bisa
sampai 12,5 : 1. Tapi, supaya aman cukup 10,5 : 1.
Menurut Agus Bule, kompresi segitu didapat
dari isi ruang bakar 23,5 cc. Kemudian volume silindernya 222,5 cc.
Kalau dihitung pakai rumus rasio kompresi hasilnya 10,5 : 1.
“Sedangkan isi silinder 222,5 cc didapat
dari piston diameter 70 mm merek Kawahara. Dikawal stroke standar 57,9
mm,” kata Ricat Hansen, chief mekanik tim yang punya bengkel Cong Speed
212 di Bekasi.
Dengan kompresi rendah, tidak membuat
panas mesin membara. Tekanan di dalam silinder juga tidak terlalu
tinggi. Sehingga tidak mudah overheat dan tidak mudah jebol.
Supaya aman lagi, bibir piston dibikin
mendem 0,5 mm. Sudah termasuk aplikasi paking blok 1 mm namun belum
dipasang paking head. Kalau ditambah paking head 0,3 mm jadinya 0,8 mm.
Jadinya aman.
“Perbandingan kompresi engine dibikin
rendah, tujuannya untuk menghindari over power. Kalau over power, bisa
bikin komponen CVT mudah rusak,” Perbandingan kompresi rendah didapat,
lewat seting
Masuknya bahan bakar, diatur klep in 35 mm
dan ex 30 mm. Kedua klep ini, didorong noken as durasi in-ex 280
derajat. Klep isap membuka 35 sebelum TMA (Titik Mati Atas) menutup 65
setelah TMB (Titik Mati Bawah). Klep buang membuka 65 sebelum TMB dan
menutup 35° setelah TMA. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASISok belakang: Daytona
Ban: FDR Sport XR 90/80-14
CDI: BRT Hyperband
Cakram: Kawahara
Knalpot: CLD
Karburator : Keihin PE 28
Pilot/main-jet: 48/ 145
Roller : 6 gram rata
Rasio : 14/40
Modifikasi Yamaha Jupiter MX 135LC 2006 Jakarta, Rongsokan Jadi Juara
Ikut Fun Race enggak
butuhkan duit lebih. Namanya juga Fun Race yang penting fun alias
senang. Modal motor dan engine, bisa pakai part yang ada. Mau kenceng?
Bisa manfaatkan part copotan rongsokan dari tim balap beneran. Seperti
yang dilakukan tim ABJ 13 RT. Tim ini, turun di event Fun Race yang
diadakan di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat (26/1). Yamaha Jupiter MX
135LC yang jadi juara di kelas Bebek 4-tak ini, hanya pakai part
rongsokan dari tim ternama.
“Hampir semua part yang nempel adalah
rongsokan bekas pakai tim balap besar. Tentunya agar kencang, develop
engine juga wajib dilakonin,” bilang Muhamad Iqbal Firdaus, yang jadi
tunnernya. Mulai dari engine, sepaket blok silinder yang isinya piston
diameter 62 mm itu, limbahan dari Gery Motor. Tapi, enggak bolt on,
diseting dulu. Piston yang didorong stroke standar 57,8 mm dibikin
mendem 0,2 mm.
Kejar kompresi padat, head silinder
dipapas sekitar 3 mm dan blok silinder diganjar paking 0,5 mm. Hal ini,
hasilkan rasio kompresi mesin 13,9 : 1.
Head ini diisi kem dengan durasi in 248
derajat dan ex 251 derajat. Durasi kem itu untuk atur buka-tutup klep
berukuran in 21 mm dan ex 19 mm. Klepnya pakai punya Honda CBR 250R
dengar lingkar batang 4,5 mm. Menurut Iqbal, pakai klep ini bikin flow
bahan bakar dan gas buang jadi bagus dan endurance sudah teruji.
“Jupiter MX ini diseting agar power keluar
galak mulai dari rpm bawah-tengah. Tapi, putaran atas flat,” jelas
Iqbal. Bantu power di putaran atas, setingan karburator Keihin PE 28 mm
dibikin basah. Makanya, dijejalkan pilot jet 55 dan main jet 128. Agar
bahan bakar dibakar habis, pengapian dibikin advance pakai CDI BRT Dual
Band. Lalu, final gear dipilih ukuran 15/35 mata. (www.motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASIBan
Pelek belakang
Pelek depan
Cakram
Sok belakang
Modifikasi : Honda Supra X125 2010 Cibinong, Lebih Presisi Karena Dibikin Dengan Sistem CNC
Pacuan berkelir putih yang
dipacu Harlan Fadhillah di bawah payung tim Pertamina Enduro BRT Nissin
Cargloss ini satu dari sekian Honda Supra X125 yang mampu mengimbangi
lari New Blade pacuan Owie Nurhuda. Terlihat di seri final Honda Racing
Championship (HRC) di Cimahi, Bandung minggu lalu.
Catatan waktu tercepat pada QTT kelas bebek tune up 125 cc seeded (HRC
1), berhasil dibukukan Harlan di atas motor bertenaga 21,5 dk (diukur
di atas mesin Dynojet 250i) ini, yakni 1 menit 1,258 detik. Harlan juga
sukses finish terdepan di race 2 setelah memanfaatkan jatuhnya Owie beberapa lap menjelang finish di race 2.
“Motor ini peninggalan Rey Ratukore. Tapi,
setingan mesin sudah diubah. Makanya tenaganya bisa naik. Dulu cuma 19
dk lebih,” beber Islahudin, mekanik BRT yang turut menangani oprekan
mesin Supra X125 Harlan.
Kunci naiknya performa terletak pada proses pengerjaan cylinder head dan pembentukan profil kem. “Sudah pakai mesin bubut CNC (Computer Numerik Control). Hasilnya lebih presisi. Sitting klep pakai bahan beryllium yang lebih kuat dan tahan temperatur tinggi,” tukas Tomy Huang, bos BRT.
“Untuk durasi kem in 273º dan out 280º dengan lift 9,1
mm dan LSA di 102º - 108º, tinggal masukin angka derajat kem. Diset
buka dan tutup serta tinggi angkatan klepnya pada CNC-nya. Akan
terbentuk profil kem presisi sesuai hitungan kita,” terang Islahudin.
Begitu pula ketika seting sudut kemiringan
dudukan bos klep, papas head dan bagian-bagian yang butuh kepresisian,
pengerjakan dilakukan CNC. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Ban : FDR SportMax MP 27, 90/80-17
Sok depan : Kayaba
Sok belakang : Daytona Supershock
Kaliper depan : Nissin 2 piston
Knalpot : R9 Titanium
Karburator : PWK 28 (PJ/MJ 62/112)\
Ban : FDR SportMax MP 27, 90/80-17
Sok depan : Kayaba
Sok belakang : Daytona Supershock
Kaliper depan : Nissin 2 piston
Knalpot : R9 Titanium
Karburator : PWK 28 (PJ/MJ 62/112)\
Modifikasi : Honda Supra X 125 2013 Bandung, Semuanya Kencang!
Penulis : ADV
Foto : Dok M+
Setelah Andi Gilang berjaya di
Honda Racing Championship (HRC) Purbalingga, Jawa Tengah (13/10), kini
giliran rekan setimnya. Aditya Pangestu mendominasi kelas 125 cc Tune up
pemula di HRC Di seri Tegal, Jawa Tengah (3/11).
Selain skill
pembalap yang mumpuni, motor yang ditunggangi pembalap tim Honda Daya
KYT Walini Federal Oil FDR ini juga menjadi salah satu kunci
kemenangannya. "Paling utama setingan motor harus sesuai dengan karakter
pembalap. Untuk tunggangan Aditya, karakter motornya dibuat lembut di
putaran bawah, tetapi bengis di putaran menengah dan atas," ucap Arif
Shetep, mekanik yang meracik motor ini.
Untuk mendongkrak tenaga besar yang dimiliki
Supra X125, piston diubah menggunakan produk Izumi berdiameter 53,4 mm.
Hal ini juga demi menyesuaikan regulasi yang membolehkan kapasitas
silinder hingga 130 cc.
Sesuai dengan regulasi yang mewajibkan
penggunaan bahan bakar beroktan 95, rasio kompresi mesin tidak dipatok
tinggi. Shetep hanya memakai kompresi 12,8 : 1 di tunggangan pembalap
asal Subang, Jawa Barat ini.
Mengatur keluar masuk bahan bakar di ruang silinder, klep diganti menggunakan klep Honda Sonic yang dimodif. Klep in pakai payung klep berdiameter 26 mm, sedangkan klep ex pakai payung 23 mm.
Menyesuaikan dengan ubahan pada payung klep, saluran hisap dan buang ikut dirombak. Lubang bibir klep isap diporting jadi 25,5 mm, sedangkan lubang klep ex dipatok 23 mm.
Durasi noken as disesuaikan. In dibuat
berdurasi 274°. Membuka 34° sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup
60° sebelum TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buang berdurasi 273°.
Hitungannya, membuka 60° sebelum TMB, dan menutup 33° setelah TMA.
"Durasi noken as ini yang membuat motor
bertenaga halus di putaran bawah dan tetap isi di putaran menengah
hingga atas," tegas Shetep. Kombinasi ini lah yang akhirnya membuat
Aditya berdiri di podium tertinggi. (motorplus-online.com)
DATA MODIFIKASI
Pelek: Takasago Excel
Ban: FDR 90/80
Knalpot: Custom
Sok belakang: Showa
CDI: BRT
Pelek: Takasago Excel
Ban: FDR 90/80
Knalpot: Custom
Sok belakang: Showa
CDI: BRT
How to Make Money at a Casino - Work Tomake Money
BalasHapusThe best way งานออนไลน์ to make money at a casino is to make money online. and play online slots for kadangpintar real money and earn worrione real money.